DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………….ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah…………………………………………..…
B.
Perumusan
Masalah………………………………………………....
C.
Tujuan
Penulisan…………………………………………………….
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………………………
A.
Karakteristik Konsolidasi dengan
Akuisisi melebihi Nilai tercatat…
B.
Aset Teridentifikasi dan Liabilitas
diambil alih……………………..
C.
Ilustrasi akuisisi dengan
Kepemilikan Penuh…………..……………
D.
Akuisisi dengan Kepemilikan
Sebagian…………….……………….
E.
Isu lain seputar
Konsolidasian……………………………………….
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan…………………………………………………………
B.
Saran………………………………………………………………..
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
masalah
Dalam perkembangan ekonomi saat ini,
banyak perusahaan yang melakukan penggabungan perusahaan untuk bisa
meningkatkan kinerja dan keuntungan mereka. Jika perusahaan bergabung dalam
bentuk merger ataupun konsolidasi, maka pencatatan akuntansinya lebih mudah
dibandingkan dengan akuisisi saham, yaitu hanya memindahkan semua akun aktiva
bersih ke perusahaan yang masih berdiri atau perusahaan yang didirikan,
kemudian perusahaan lainnya yang bergabung dibubarkan.
Walaupun disebut laporan
keungan konsolidasi, bukan berarti laporan ini digunakan untuk penggabungan
usaha bentuk konsolidasi. Dalam praktiknya, laporan ini biasa digunakan untuk
perusahaan induk dan perusahaan anak.
.B. Perumusan masalah
1.
Bagaimana Karakteristik Konsolidasi dengan Akuisisi melebihi Nilai
tercatat?
2.
Bagaimana Akuisisi dengan Kepemilikan Penuh dan Sebagian?
3.
Seperti apa isu lain seputar Konsolidasi ?
C. Tujuan penulisan
1.
Untuk memahami Karakteristik Konsolidasi dengan Akuisisi melebihi Nilai
tercatat
2.
Untuk memahami mengenai Akuisisi dengan Kepemilikan Penuh
dan Sebagian
3.
Untuk mengetahui isu lain seputar Konsolidasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Konsolidasi dengan Akuisisi Melebihi Nilai Tercatat
1.
Prosedur
Konsolidasi
Pada
praktiknya, transaksi akuisisi suatu perusahaan oleh perusahaan lain sebesar
nilai buku sangatlah jarang dilakukan. Perusahaan pengakuisisi (investor)
biasanya akan melakukan uji kelayakan (due
diligence) atas bisnis yang akan diakuisisi. Hasil akurat dari uji
kelayakan tersebut dapat menunjukkan apakah bisnis yang akan diakuisisi
memiliki nilai lebih atau lebih rendah dari nilai bukunya. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi proses penilaian kelayakan bisnis saat proses kombinasi
bisnis antara lain prospek bisnis perusahaan yang akan diakuisisi terutama
dalam menciptakan penghasilan tambahan bagi perusahaan pengakuisisi, kondisi
industri secara umum, nilai strategis bisnis, kualitas manajemen, dan tentunya
nilai wajar dari asset maupun liabilitas yang dilaporkan oleh perusahaan yang
akan diakuisisi.
Proses
pembuatan laporan keuangan konsolidasi atas akuisisi yang dilakukan di atas
nilai buku tidak memiliki perbedaan signifikan disbandingkan akuisisi pada
nilai buku. Sebagai contoh, tertanggal 1 Januari 2015, PT Nusantara
mengeluarkan investasi senilai Rp 1.500.000.000 untuk keseluruhan kepemilikan
pada PT Andalas. Nilai investasi Rp 1.500.000.000 merupakan nilai wajar
konsiderasian (fair value consideration)
hasil penilaian yang dilakukan oleh PT Nusantara atas berbagai faktor yang
terkait pada PT Andalas.
PT Nusantara akan mencatat
transaksi akuisisi PT Andalas sebagai berikut :
1 Januari 2015
(1)
Investasi
pada PT Andalas 1.500.000.000
Kas 1.500.000.000
Transaksi
akuisisi PT andalas juga menggunakan skema penghitungan yang seperti pembahasan
sebelumnya, sehingga memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
Nilai Investasi 1.500.000.000
Nilai Buku
Saham Biasa 800.000.000
Saldo Laba 400.000.000
Total Nilai Buku 1.200.000.000
Selisih (diferensial) antara
nilai investasi dan nilai buku 300.000.000
Berdasarkan
perhitungan tersebut, terlihat bahwa PT Nusantara mengeluarkan investasi yang
lebih tinggi dibandingkan nilai buku PT Andalas, yaitu sebesar Rp 300.000.000.
Secara perhitungan, investasi PT Nusantara pada PT Andalas ditunjukkan pada
tabel berikut:
Perhitungan
Kepemilikan PT Nusantara atas PT Andalas
Rasio
|
Investasi
|
Non Pengendalian
|
Modal Saham
|
Saldo Laba
|
Diferensial
|
|
Saldo 1 Januari 2015
|
100:0
|
1.500.000.000
|
0
|
800.000.00
|
400.000.000
|
300.000.000
|
Laba Bersih
|
100:0
|
|||||
Deviden
|
100:0
|
|||||
Saldo 1 Januari 2015
|
100:0
|
1.500.000.000
|
0
|
800.000.000
|
400.000.000
|
300.000.000
|
Untuk
pengonsolidasian laporan keuangan, dapat dilakukan proses yang sama seperti
yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Berdasarkan perhitungan pada
tabel tersebut, maka diperoleh jurnal eleminasi sebagai berikut :
(2e) Saham Biasa
– PT Andalas 800.000.000
Saldo
Laba 400.000.000
Diferensial 300.000.000
Investasi pada PT Andalas 1.500.000.000
|
Dapat
dilihat bahwa jurnal eliminasi tersebut juga menghapus seluruh saldo ekuitas
milik entitas anak, dalam kasus ini adalah saham biasa dan saldo laba, sebesar
nilai tercatatnya. Sementara itu, kelebihan nilai investasi hasil konsideran
nilai wajar atas nilai buku entitas anak yang diakuisisi selanjutnya
dieliminasikan terhadap suatu akun perantara yang disebut diferensial.
2.
Diferensial
Berdasarkan
PSAK 22 (Revisi 2010), diferensial harus dialokasikan pada asset
teridentifikasi yang diperoleh dan/atau liabilitas yang diambil alih yang
dianggap menyebabkan nilai wajar dari entitas anak yang dikonsolidasikan
melebihi nilai bukunya atau dialokasikan sebagai goodwill.
B. Aset Teridentifikasi dan Liabilitas Diambil Alih
Menurut PSAK 22 (2010) asset teridentifikasi yang
diperoleh dan liabilitas yang diambil alih haruslah memenuhi definisi asset dan
liabilitas menurut kerangka dasar penyusunan penyajian laporan keuangan pada
tanggal akuisisi serta merupakan bagian yang dipertukarkan dalam proses
akuisisi. Selain itu, PSAK 22 (2010) juga menyatakan bahwa dimungkinkan untuk
memunculkan suatu asset atau liabilitas baru yang sebelumnya tidak diakui oleh
pihak yang diakuisisi.
Pengklasifikasian dan penentuan asset teridentifikasi dan
liabilitas yang diambil alih perlu didasarkan pada hal-hal seperti: (1)
persyaratan kontraktual, (2) kondisi ekonomi, (3) kebijakan operasional dan
akuntansinya, serta (4) kondisi terkait lainnya yang ada pada tanggal
terjadinya akuisisi. Perusahaan yang melakukan akuisisi mengukur asset
teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dengan nilai
wajar pada tanggal akuisisi, kecuali untuk komponen-komponen berikut ini:
liabilitas kontijensi, pajak penghasilan (PSAK 46), imbalan kerja (PSAK 24),
asset idemnifikasi, hak yang diperoleh kembali atas asset tak berwujud,
pembayaran berbasis saham (PSAK 53), dan asset tersedia untuk dijual (PSAK 58).
1.
Goodwill
PSAK 22
(2010) mendefinisikan goodwill
sebagai selisih antara nilai agregat dari (1) imbalan yang dialihkan, (2)
jumlah kepentingan nonpengendali, (3) nilai wajar kepentingan ekuitas yang
sebelumnya diakuisisi jika kombinasi bisnis dilakukan bertahap, dan jumlah neto
dari asset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih.
Dapat dikatakan pula bahwa goodwill
mencerminkan pandangan investor (pihak pengakuisisi) atas potensi atau nilai
lebih yang dimiliki investee (pihak
diakuisisi) sehingga pihak pengakuisisi mau membayar lebih atas nilai bersih
asset yang dimiliki pihak diakuisisi.
Dalam
kasus akuisisi PT Andalas oleh PT Nusantara, jika diasumsikan bahwa perbedaan
nilai investasi dan nilai buku disebabkan oleh goodwill, maka pengalokasian diferensial pada goodwill menggunakan jurnal eliminasi sebagai berikut:
(4e) Goodwill 300.000.000
Diferensial 300.000.000
|
Jika suatu kombinasi bisnis memunculkan pengakuan
terhadap goodwill, maka goodwill yang diakui merupakan subjek
pengujian penurunan nilai sesuai PSAK 48 dan tidak dapat diamortisasi.
Penurunan nilai goodwill terjadi
ketika nilai tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang dapat
diperoleh kembali (recoverable amount), yakni
nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan nilai
pakai atau hasil investasi di masa mendatang.
2.
Pembelian
dengan Diskon
Selain
melakukan pembelian yang dapat menyebabkan terjadinya goodwill, dapat juga terjadi akuisisi dengan konsiderasi nilai
wajar yang ditukarkan oleh investor lebih rendah dibandingkan nilai wajar dari
seluruh asset bersih yang dimiliki investee.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa saat dilakukan akuisisi terdapat “goodwill negative” , pembelian yang
dilakukan investor atas investee
terjadi pada harga diskon (bargain
purchase). Pembelian dengan diskon mungkin terjadi , misalnya dalam kondisi
penjualan yang dilakukan dengan terpaksa.
PSAK 22 (revisi 2010)
mengindikasikan bahwa investor (pengakuisisi) harus mengakui keuntungan yang
dihasilkan dari pembelian dengan diskon ini melalui laba atau rugi pada tanggal
akuisisi. Namun sebelum mengakui keuntungan tersebut, perlu dipastikan apakah
investor telah mengidentifikasi secara tepat dan menyeluruh asset yang
diperoleh maupun liabilitas yang diambil alih dari pihak yang diakuisisi.
Sebagai
ilustrasi, misalkan PT Nusantara membeli PT Andalas seharga Rp.1.000.000.000
Diketahui dari nilai wajar persediaan dan tanah adalah Rp.50.000.0000 dan
Rp.150.000.000 lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya (Maka nilai wajar dari
nilai asset bersih adalah Rp.1.400.000.000) , maka terdapat selisih sebesar
Rp.140.000.000 antara nilai wajar asset PT Andalas dengan konsiderasi nilai
wajar yang diserahkan PT Nusantara. Berdasarkan transaksi tersebut, PT
Nusantara mencatat jurnal sebagai berikut:
1 Januari 2015
(5)
Investasi pada PT Andalas 1.000.000.000
Kas 1.000.000.000
|
Jurnal Eliminasi saat melakukan konsolidasi:
(6E)
Saham Biasa-PT Andalas 800.000.000
Saldo Laba 400.000.000
Diferensial 200.000.000
Investasi pada PT Andalas 1.000.000.000
|
Jurnal Eliminasi saat mengalokasikan
Diferensial :
(7E)
Persediaan 50.000.000
Tanah 150.000.000
Diferensial 200.000.000
Keuntungan pembelian asset 400.000.000
|
C.
ILUSTRASI
AKUISISI DENGAN KEPEMILIKAN PENUH
Konsolidasi
Sesaat Setelah Akuisisi
Sebagai
ilustrasi konsolidasi atas akuisisi dengan kepemilikan penuh untuk kombinasi
bisnis yang dilakukan di atas nilai tercatat, akan digunakan kasus akuisisi PT
Andalas oleh PT Nusantara dengan modifikasi informasi sebagai berikut: PT
Nusantara membeli seluruh saham PT Andalas seharga Rp.1.500.000.000. Diketahui
bahwa nilai buku dari seluruh asset bersih PT Andalas adalah Rp.1.400.000.000
sehingga terdapat diferensial dari akuisisi ini sebesar Rp.300.000.000 yang
dialokasikan kepada goodwill sebesar Rp.100.000.000 dan aset teridentifikasi
lainnya sebesar Rp.200.000.000.
PT
Nusantara akan mencatat transaksi akuisisi PT Andalas pada bukunya sebagai
berikut:
1 Januari 2015
Investasi pada PT
Andalas 1.500.000.000
Kas 1.500.000.000
*mencatat pembelian
saham PT Andalas
Jurnal untuk
mengeliminasi ekuitas entitas anak dalam pengonsolidasian laporan keuangan
sesaat setelah akuisisi:
Saham Biasa PT Andalas 800.000.000
Saldo Laba 400.000.000
Diferensial 300.000.000
Investasi pada PT Andalas 1.500.000.000
*mengeliminasi saldo
awal investasi
Jurnal eliminasi untuk
pengalokasian diferensial:
Persediaan 50.000.000
Tanah 210.000.000
Goodwill 100.000.000
Diferensial 300.000.000
Bangunan dan Peralatan 60.000.000
*mengeliminasi saldo
awal investasi
Konsolidasi
pada Periode Setelah Akuisisi
Untuk
periode setelah terjadinya akuisisi atas akuisisi yang dilakukan di atas nilai
tercatat, tidak terdapat perbedaan mendasar dibandingkan konsolidasi ketika
akuisisi dilakukan pada nilai tercatat.
Dengan
informasi yang sama pada ilustrasi sebelumnya, diketahui bahwa selama tahun
berjalan PT Nusantara mengumumkan dan membagikan dividen sebesar
Rp.300.000.000, sedangkan PT Andalas mengumumkan dan membagikan dividen sebesar
Rp.50.000.000. PT Nusantara, sebagai entitas yang memiliki PT Andalas akan
mencatat transaksi terkait penerimaan dividen dari entitas anak sebagai
berikut:
31 Desember 2015
Kas 50.000.000
Investasi pada PT Andalas 50.000.000
*mencatat penerimaan
dividen dari PT Andalas (Rp.50.000.000
x 100%)
Selain
itu, selama tahun berjalan PT Andalas melaporkan perolehan laba bersih sebesar
Rp.200.000.000 yang dapat dihitung dari menjumlahkan seluruh pendapatan lalu
dikurangi seluruh beban yang dilaporkan. Atas laba bersih yang dilaporkan ini,
PT Nusantara sebagai pemilik, dapat mengakui perolehan pendapatan sebesar porsi
kepemilikan atas PT Andalas berdasarkan metode ekuitas sebagai berikut:
31 Desember 2015
Investasi pada PT
Andalas 200.000.000
Bagian Laba atas PT Andalas 200.000.000
*mencatat pengakuan
penghasilan dari PT Andalas (Rp.200.000.000
x 100%)
Selain itu untuk
mengakui penghaspusan diferensial yang terjadi selama periode berjalan, maka PT
Nusantara akan mencatat jurnal sebagai berikut:
Bagian Laba atas PT
Andalas 50.000.000
Investasi pada PT Andalas 50.000.000
*menyesuaikan
diferensial terkait persediaan terjual (Rp.50.000.000 x
100%)
Investasi pada PT
Andalas 5.000.000
Bagian Laba atas PT Andalas 5.000.000
*menyesuaikan
diferensial terkait bangunan peralatan (Rp.5.000.000 x
100%)
Laba
Bersih dan Saldo Laba Konsolidasian
Berdasarkan
kertas kerja konsolidasian pada buku paket di table 4.6 dapat kita lihat bahwa
laba bersih konsolidasian PT Nusantara dan entitas anak untuk periode yang
berakhir 31 Desember 2015 adalah Rp.755.000.000. Sedangkan saldo laba
konsolidasian per tanggal 31 Desember 2015 adalah Rp.1.955.000.000. Adapun
perhitungan laba bersih konsolidasian untuk PT nusantara dan entitas anak
adalah sebagai berikut:
Laba bersih PT
Nusantara 755.000.000
Dikurangi:Bagian alaba
atas PT Andalas (155.000.000)
Ditambah:Porsi milik PT
Nusantara atas laba(rugi)PT Andalas 200.000.000
Ditambah:Amortisasi
diferensial terkait bangunan dan peralatan 5.000.000
Dikurangi:Penghapusan
diferensial terkait persediaan (50.000.000)
Laba Rugi Konsolidasian 755.000.000
Berdasarkan perhitungan
diatas dapat terlihat bahwa ketika entitas anak dimiliki sepenmuhnya oleh
entitas induk serta tidak ada penyesuaian komponen-komponen tertentu, laba rugi
konsolidasian adalah sama dengan laba rugi yang dilaporkan oleh entitas induk.
Sedangkan perhitungan
saldo laba konsolidasian PT Nusantara dan entitas anak per 31 Desember 2015
adalah:
Saldo Laba PT Nusantara
per 1 Januari 2015 1.500.000.000
Laba bersih PT
Nusantara 755.000.000
Dikurangi::Bagian laba
atas PT Andalas (155.000.000)
Ditambah:Porsi milik PT
Nusantara atas laba(rugi)PT Andalas 200.000.000
Ditambah:Amortisasi
diferensial terkait bangunan dan peralatan 5.000.000
Dikurangi:Penghapusan
diferensial terkait persediaan (50.000.000)
Laba Rugi Konsolidasian 1.955.000.000
Konsolidasi
pada Periode Setelah Terjadinya Akuisisi
Pada
periode setelah periode terjadinya akuisisi, beberapa hal harus diperhatikan
ketika menyiapkan laporan keuangan konsolidasian untuk entitas anak yang
diakuisisi tidak pada nilai tercatatnya. Karena pada pengakuisisian yang tidak
dilakukan pada nilai tercatatat menimbulkan diferensial yang perlu dialokasikan
terhadap aset diperoleh atau liabilitas diambil alih, atau bahkan goodwill.
Maka, entitas induk perlu memastikan bahwa diferensial tersebut telah diukur
secara tepat. PSAK 22 (2010) mensyaratkan entitas untuk mengukur dan mencatat
aset yang diperoleh maupun liabilitas yang diambil alih telah sesuai standar
terkait untuk akunakun tersebut. Misalkan diferensial diaolkasikan terhadap
aset tetap yang diukur menggunakan metode biaya historis, maka perusahaan perlu
memastikan apalah penyusutan yang dicatat telah sesuai atau membutuhkan
tambahan(pengurangan) penyusutan untuk tujuan konsolidasian. Bila diferensial
kemudian disebabkan karena munculnya goodwill, maka sesuai PSAK 22 (Revisi 2010),
entitas perlu melakukan pengujian penurunan nilai (impairment) setiap periode
pelaporan.
D.
AKUISISI
DENGAN KEPEMILIKAN SEBAGIAN
Dalam
penyusunan laporan keuangan konsolidasian tidak pada nilai tercatat kepemilikan
sebagian, hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan kepentingan
nonpengendali. Karena keberadaan kepentingan nonpengendali, PSAK 65 (Revisi
2014) mensyaratkan entitas induk untuk menyajikan secara terpisah bagian dari
kepentingan nonpengendali pada ekuitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian.
Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada pengguna laporan keuangan seberapa
besar bagian dari asset bersih yang dimiliki entitas anak yang tidak dikuasai
oleh entitas induk. Dalam hal ini yang di atribusikan kepada kepentingan
nonpengendali termasuk bagian laba rugi dan setiap komponen yang diakui sebagai
bagian penghasilan komprehensif lain.
Ilustrasi
Konsolidasian dengan Kepemilikan Sebagian
PT Nusantara membeli
75% saham PT Andalas seharga Rp1.200.000.000. pada saat dilakukan akuisisi, diketahui
pula bahwa nilai wajar dari kepentingan nonpengendali adalah Rp300.000.000
sedangkan nilai wajar seluruh asset dan liabilitas PT Andalas adalah
Rp1.400.000.000. nilai buku dari seluruh ekuitas PT Andalas adalah
Rp1.200.000.000, sehingga terdapat diferensial dari akuisisi ini sebesar
Rp300.000.000 yang dialokasikan pada goodwill
sebesar Rp100.000.000 dan asset teridentifikasi lainnya sebesar
Rp200.000.000. Sebagai gambaran, transaksi akuisisi PT Nusantara terhadap PT
Andalas ditunjukkan berikut ini :
Nilai investasi Rp1.200.000.000
Nilai buku
Saham biasa Rp 800.000.000
Total Nilai Buku Rp1.200.000.000
Porsi
kepemilikan 75%
Nilai buku atas
kepemilikan diakuisisi Rp900.000.000
Perbedaan antara
nilai investasi dan nilai buku Rp300.000.000
PT Nusantara
akan mencatat transaksi akuisisi PT Andalas ini sebagai berikut :
1 Januari 2015
(28) Investasi pada PT Andalas Rp1.200.000.000
Kas Rp1.200.000.000
Untuk pengonsolidasian
laporan keuangan sesaat setelah akuisisi, jurnal eliminasi yang dibuat adalah
pengeliminasian ekuitas anak perusahaan.
(29e) Saham biasa- PT Andalas Rp.800.000.000
Saldo laba Rp400.000.000
Diferensial Rp300.000.000
Investasi pada PT
Andalas Rp1.200.000.000
Kepentingan
nonpengendali Rp 300.000.000
Mengeliminasi saldo awal investasi
Jurnal eliminasi
lainnya adalah pengalokasian diferensial:
(30e) Persediaan Rp 50.000.000
Tanah Rp210.000.000
Goodlwill
Rp100.000.000
Diferensial Rp300.000.000
Bangunan dan peralatan Rp 60.000.000
Mengeliminasi saldo awal investasi
Jurnal
pengalokasian diferensial ini mendistribusikan diferensial yang muncul dari
transaski akuisisi. Persediaan mengalami kenaikan nilai wajar dari nilai
tercatat sebsar Rp50.000.000, tanah mengalami kenaikan nilai wajar sebesar
Rp210.000.000, sedangkan bangunan dan peralatan mengalami penurunan nilai
sebesar Rp60.000.000. Selain itu, atas transaksi kombinasi bisnis PT Nusantar dan
PT Andalas, diakui munculnya goodwill
sebesar Rp100.000.000 dari selisih antara imbalan yang diserahkan PT Nusantara
atas nilai wajar asset bersih PT Andalas. Dapat terlihat pada jurnal (29e)
menunjukkan sedikit perbedaan dengan jurnal (19e) ketika kepemilikan dipenuhi
seluruhnya. Pada kepemilikan sebagian ini, jurnal penghapusan saldo awal
investasi memunculkan suatu akun baru, yakni kepentingan nonpengendali yang
mencerminkan hak pemegang saham nonpengendali atas asset yang dimiliki entitas
anak.
Laporan posisi
keuangan konsolidasian PT Nusantara dan entitas anak sesaat setelah akuisisi

Konsolidasian Pada Periode Akuisisi
Melanjutkan
ilustrasi akuisisi yang dilakukan oleh PT Nusantara terhadap PT Andalas, dengan
informasi yang sama, diketahui bahwa
selama tahun berjalan PT Nusantara mengumumkan dan membagikan dividen sebesar
Rp50.000.000. PT Nusantara, sebagai perusahaan yang memiliki PT Andalas, akan
mencatat transaksi terkait penerimaan dividen dari anak perusahaan sebagai
berikut:
31 Desember 2015
(31) Kas 37.500.000
Investasi pada PT Andalas 37.500.000
Selama
tahun berjalan PT Andalas melaporkan perolehan laba bersih sebesar
Rp200.000.000 yang dapat dihitung dari menjumlahkan seluruh pendapatan lalu
dikurangi seluruh beban yang dilaporkan. Atas laba bersih yang dilaporkan ini,
PT Nusantara sebagai pemilik, dapat mengakui perolehan pendapatan sebesar porsi
kepemilikan atas PT andalas berdasarkan metode ekuitas sebagai berikut :
31 Desember 2015
(32) Investasi
pada PT Andalas 150.000.000
Bagian laba atas PT Andalas 150.000.000
Selain itu untuk mengakui penghapusan diferensial
yang terjadi selama periode berjalan, makaPT Nusantara akan mencatat jurnal
sebagai berikut:
(33) Bagian laba
atas PT Andalas 50.000.000
Investasi pada PT Andalas 50.000.000
(34) Investasi
pada PT Andalas 5.000.000
Bagian laba atas PT Andalas 5.000.000
E.
ISU LAIN SEPUTAR
KONSOLIDASIAN
Biaya Transaksi Terkait Akuisisi
Biaya
transaksi yang terkait proses pengakuisisian suatu perusahaan sangat besar
kemungkinannya untuk dikeluarkan oleh pihak pengakuisisi. Biaya transaksi
terkait akuisisi dapat berupa biaya makelar, biaya hukum dan konsultasi, biaya
terkait akuntansi, biaya penilaian dan jasa professional lainnya, biaya
administrasi umum, serta biaya pendaftaran maupun penerbitan efek jika
pengakuisisian menggunakan instrument utang atau ekuitas. Menurut PSAK 22,
seluruh biaya transaksi terkait akuisisi harus dibebankan pada periode ketika
biaya tersebut terjadi atau jasa diterima kecuali biaya untuk menerbitkan efek
baik berupa utang atau ekuitas yang perlakuannya mengikuti PSAK 55 (Revisi
2014) Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran.
Sebagai
contoh, PT Nusantara mengakuisisi seluruh kepemilikan pada PT Andalas senilai
Rp1.500.000.000. Atas transaksi pengakuisisian tersebut, PT Nusantara
mengeluarkan pula beberapa biaya yakni biaya jasa penilaian asset sebesar
Rp70.000.000; biaya hukum dan akuntansi sebesar Rp80.000.000; serta biaya
penerbitan dan pencatatan emisi efek sebesar Rp50.000.000. PT Nusantara
menerbitkan saham sebanyak 1.000.000 lembar saham, dengan nilai per Rp1.000,
maka PT Nusantara akan mencatat transaksi pengakuisisian sebagai berikut :
(40) Investasi pada
PT Andalas Rp1.550.000.000
Beban Pengakuisisian Rp 150.000.000
Kas Rp 200.000.000
Modal saham Rp1.000.000.000
Premium saham Rp500.000.000
PT
Nusantara akan mencatat nilai investasi sebesar Rp1.550.000.000 yakni imbalan
yang dikeluarkan ditambah dengan biaya penerbitan dan pencatatan emisi efek
yang menurut PSAK 55 perlu dikapitalisasi. Sedangkan biaya-biaya lainnya
langsung dibebankan pada tahin itu dan muncul pada laporan laba rugi
komprehensif.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Jadi,
dalam praktiknya transaksi akuisisi suatu perusahaan oleh perusahaan lain
sebesar nilai buku sangatlah jarang dilakukan. Perusahaan pengakuisisi
(investor) biasanya akan melakukan uji kelayakan (due diligence) atas bisnis yang akan diakuisisi. Menurut PSAK 22
(2010) asset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih
haruslah memenuhi definisi asset dan liabilitas menurut kerangka dasar
penyusunan penyajian laporan keuangan pada tanggal akuisisi serta merupakan bagian
yang dipertukarkan dalam proses akuisisi. Untuk
periode setelah terjadinya akuisisi atas akuisisi yang dilakukan di atas nilai
tercatat, tidak terdapat perbedaan mendasar dibandingkan konsolidasi ketika
akuisisi dilakukan pada nilai tercatat. Dalam penyusunan
laporan keuangan konsolidasian tidak pada nilai tercatat kepemilikan sebagian,
hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan kepentingan nonpengendali. Biaya
transaksi yang terkait proses pengakuisisian suatu perusahaan sangat besar
kemungkinannya untuk dikeluarkan oleh pihak pengakuisisi. Biaya transaksi
terkait akuisisi dapat berupa biaya makelar, biaya hukum dan konsultasi, biaya
terkait akuntansi, biaya penilaian dan jasa professional lainnya, biaya
administrasi umum, serta biaya pendaftaran
B. SARAN
Diharapkan bagi para mahasiswa dapat mengambil sisi
manfaat dari makalah ini, serta dapat menambah wawasan baru kepada para
pembaca. Dan tak lupa pula kami mebuka selebarnya untuk kritik dan saran atas
makalah mengenai “ Konsolidasi dengan Akuisisi melebihi Nilai Tercatat Ekuitas.”
DAFTAR PUSTAKA
1. Martani,
Dwi et al.,2016. Akuntansi Keuangan Lanjutan 1. Jakarta: Salemba Empat.
or you can download full version, link dibawah ini
Download Here
or you can download full version, link dibawah ini
Download Here